Kabar & Cerita ERC Indonesia
Ikuti perkembangan terkini, opini, dan cerita inspiratif dari program dan kegiatan ERCI di lapangan.

Ketahanan Ideologi Pancasila di Era Modern: Kenapa Kita Harus Peduli?
Di tengah perkembangan teknologi, media sosial, dan arus informasi yang begitu cepat, menjaga nilai-nilai kebangsaan menjadi hal yang semakin penting. Pancasila bukan hanya sekadar simbol negara, tetapi juga pedoman hidup masyarakat Indonesia.

Kenapa Pancasila Masih Penting di Era Media Sosial? Ini Alasan yang Jarang Disadari
Di zaman ketika informasi bisa menyebar dalam hitungan detik lewat media sosial, banyak orang mulai bertanya: apakah nilai-nilai kebangsaan masih relevan? Temukan jawabannya di sini.

Diam-Diam Ini yang Menjaga Indonesia Tetap Utuh Sampai Sekarang
Indonesia tumbuh bukan karena keseragaman, melainkan karena kemampuannya menyatukan perbedaan. Apa sebenarnya yang menjaga Indonesia tetap berdiri kokoh sampai hari ini?

Ketika Tubuh Menjadi Kanvas: Cerita Budaya dari Tanah Papua
Di sebuah tanah yang hijau dan dipeluk oleh hutan tropis yang lebat, manusia tidak hanya mengenakan pakaian untuk menutupi tubuhnya. Di sana, tubuh justru menjadi sebuah kanvas—tempat di mana cerita, keberanian, dan identitas sebuah komunitas dilukiskan.

Kami Datang dari Tanah yang Berbeda
Di suatu malam yang hangat, sekelompok anak muda berdiri bersama di depan spanduk besar bertuliskan 'Colors of Indonesia – Embracing Unity Through Diversity.' Senyum mereka berbeda, logat bicara mereka berbeda, namun semua perbedaan itu terasa seperti warna-warna yang berpadu dalam satu lukisan besar bernama Indonesia.

Catatan Perubahan: Dari Siswa Bermasalah Menjadi Belajar Bertanggung Jawab
Saya Rianto Agustin, biasa dipanggil Toto, siswa kelas XI angkatan ke-9 Kelas Multikultural SMK Bakti Karya Parigi. Ini adalah cerita proses berubah dari siswa yang sering melanggar aturan menjadi pribadi yang belajar memahami tanggung jawab.

Jejak Kecil di Tepi Laut: Aksi Bersih Pantai Pangandaran
Awalnya kegiatan ini terdengar sederhana: membersihkan pantai, memungut sampah, lalu pulang. Namun setelah menjalaninya, kami sadar bahwa ini tentang tanggung jawab, kepedulian, dan masa depan yang harus dijaga bersama.

Merantau untuk Belajar: Perjalanan Pelajar Menemukan Cara Pandang Baru
Merantau sering kali dimaknai sebagai perjalanan meninggalkan kampung halaman. Bagi para pelajar, perjalanan pendidikan singkat pun dapat menjadi pintu untuk melihat dunia dengan cara yang berbeda — dan memahami arti keberagaman yang sesungguhnya.

Science Camp: Mereka Meneliti, Kami Belajar
Selasa, 3 Februari 2026 menjadi hari yang berbeda di SMK Bakti Karya Parigi. Kami kedatangan tamu dari enam universitas lintas negara — Indonesia, Filipina, Jerman, hingga Prancis — untuk mengikuti Science Camp GreenTrans-Edu, program penelitian sekaligus pertukaran pengetahuan lintas budaya.

Generasi Z Mulai Jauh dari Pancasila? Sekolah Ini Punya Cara Tak Biasa Melawannya
Di tengah arus informasi digital, ancaman ideologi kini hadir lewat algoritma, konten viral, dan polarisasi identitas. SMK Bakti Karya Parigi menjawabnya dengan model pendidikan multikultural berbasis asrama, tempat nilai Pancasila tidak dihafal, tetapi dialami langsung setiap hari.

Bukan Study Tour Biasa! Siswa SMK Ini Diajak Masuk Dapur Strategi Negara
Pada Juli 2025, siswa SMK Bakti Karya Parigi mengunjungi Lemhannas RI dan BPIP untuk memahami langsung bagaimana negara membangun ketahanan ideologi. Ini bukan wisata edukasi biasa, tetapi experiential civic learning yang membentuk cara pandang kebangsaan sejak dini.

Perang Sunyi di Ruang Digital
Paparan konten ekstrem, disinformasi, dan polarisasi identitas menghadirkan ancaman baru terhadap ketahanan ideologi generasi muda. Di tengah situasi ini, sekolah dipandang sebagai ruang strategis untuk membangun daya tahan berpikir kritis dan kebangsaan.

Indonesia dalam Satu Sekolah
Di tengah polarisasi sosial, SMK Bakti Karya Parigi mengelola keberagaman 58 suku dan 28 provinsi sebagai ruang belajar kolektif. Melalui musyawarah, gotong royong, dan hidup bersama di asrama, perbedaan tidak menjadi sumber konflik, tetapi fondasi kohesi kebangsaan.

Masalahnya Bukan di Buku Pelajaran
Internalisasi nilai Pancasila dinilai lemah bukan karena kekurangan materi, melainkan minimnya ruang pengalaman sosial yang nyata. Artikel ini mengulas mengapa pendidikan kebangsaan perlu bergeser dari pendekatan normatif ke praksis kolektif yang benar-benar dihidupi.
Jangan Lewatkan Cerita Terbaru
Ikuti perkembangan program dan kegiatan ERCI melalui kabar dan cerita inspiratif kami.