Kegiatan

Bukan Study Tour Biasa! Siswa SMK Ini Diajak Masuk Dapur Strategi Negara

Dari Kelas ke Lemhannas dan BPIP: Saat Pelajar Belajar Kewarganegaraan Lewat Pengalaman Nyata

Tim ERCIJuli 20259 min read
Bukan Study Tour Biasa! Siswa SMK Ini Diajak Masuk Dapur Strategi Negara

Kunjungan sekolah biasanya identik dengan wisata edukasi biasa. Namun yang dilakukan siswa SMK Bakti Karya Parigi ini beda level: mereka tidak sekadar datang, berfoto, lalu pulang. Mereka diajak masuk langsung ke dapur pemikiran strategis negara.

Tujuannya bukan untuk sensasi sesaat, melainkan membangun kesadaran kebangsaan sejak dini. Saat banyak anak muda bersentuhan dengan informasi yang terfragmentasi di ruang digital, pengalaman langsung berjumpa institusi negara menjadi momen penting untuk menata ulang cara pandang tentang Indonesia.

Ini bukan study tour biasa. Ini adalah experiential civic learning: belajar kewarganegaraan lewat pengalaman nyata.


Dari Kelas ke Jantung Strategi Nasional

Pada Juli 2025, para siswa mendapatkan kesempatan langka untuk mengunjungi Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI) dan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Dua institusi ini adalah ruang penting tempat gagasan ketahanan nasional dan arah ideologi kebangsaan dirumuskan secara serius.

Di sana, para siswa tidak hanya menerima materi secara satu arah, tetapi memahami langsung bagaimana negara bekerja menjaga stabilitas ideologi, membaca perubahan geopolitik, dan merespons tantangan kebangsaan yang terus berkembang.

Melihat langsung ekosistem kerja lembaga strategis memberi efek yang berbeda dari pembelajaran kelas. Negara tidak lagi tampak sebagai istilah abstrak dalam buku PPKn, melainkan sistem nyata yang dijalankan oleh manusia, proses, data, dialog, dan keputusan-keputusan terukur.

Apa yang dipelajari siswa di kunjungan ini

1

Arah geopolitik bangsa: memahami posisi Indonesia di tengah kompetisi ekonomi, keamanan, dan pengaruh global.

2

Tantangan ideologi global: membaca bagaimana nilai ekstrem, disinformasi, dan polarisasi menyebar lewat ekosistem digital.

3

Posisi strategis Indonesia: melihat peran Pancasila sebagai kompas nilai dalam kontestasi ideologi dunia.


Lebih dari Sekadar Pengetahuan

Kunjungan ini memang menambah wawasan, tetapi desain utamanya bukan untuk menambah hafalan. Fokusnya adalah membentuk cara berpikir. Para siswa diajak menautkan persoalan kebangsaan dengan realitas yang mereka hadapi sehari-hari: banjir informasi, polarisasi opini, dan tarik-menarik identitas di media sosial.

Saat remaja memahami bahwa isu kebangsaan bukan urusan elit semata, melainkan sesuatu yang memengaruhi masa depan mereka secara langsung, proses belajarnya naik level. Mereka mulai melihat bahwa partisipasi warga tidak dimulai ketika seseorang menjadi pejabat, tetapi ketika ia memiliki kesadaran kritis sebagai warga negara.

Ini yang membuat pendekatan experiential civic learning terasa kuat. Ia menyentuh dimensi kognitif sekaligus afektif: tahu, paham, lalu merasa memiliki.

Negara tidak lagi dipahami sebagai konsep abstrak, tetapi sebagai proses nyata yang bisa dipelajari, dipahami, dan dihormati.


Efeknya Gak Main-Main

Dampak dari pendekatan ini bukan sekadar pengetahuan tambahan. Yang terbentuk justru fondasi psikologis kebangsaan yang lebih dalam.

Sense of belonging: siswa merasakan negara sebagai rumah bersama yang layak dijaga, bukan institusi jauh yang hanya muncul saat upacara.

Imajinasi kebangsaan yang konkret: mereka mampu membayangkan masa depan Indonesia bukan sebagai slogan, melainkan proyek kolektif yang menuntut kontribusi nyata.

Penghormatan terhadap proses kenegaraan: siswa belajar bahwa kebijakan publik lahir melalui kajian, deliberasi, dan tanggung jawab institusional.


Strategi Lawan Radikalisme dari Akar

Di tengah derasnya paparan narasi ekstrem di ruang digital, pendekatan ini dapat dibaca sebagai bentuk imunisasi ideologis. Alih-alih menunggu ancaman muncul lalu bereaksi, siswa dibekali sejak awal dengan pemahaman tentang ketahanan nasional, peran Pancasila, serta bahaya disinformasi dan polarisasi.

Ketika literasi ideologi dibangun dengan pengalaman langsung, daya tahan terhadap propaganda cenderung lebih kuat. Remaja menjadi lebih mampu memeriksa sumber informasi, membaca kepentingan di balik narasi viral, dan menjaga diri dari jebakan simplifikasi hitam-putih yang sering digunakan konten ekstrem.

Dengan kata lain, pendidikan kebangsaan tidak lagi berjalan sebagai "remedial" setelah krisis, tetapi sebagai strategi pencegahan dari hulu.

Pendidikan yang naik level

Kalau mau generasi muda kuat secara ideologi, mereka harus melihat langsung bagaimana negara dijalankan, bukan hanya mendengar teorinya.

Inilah arah pendidikan masa depan: bukan sekadar belajar tentang negara, tetapi mengalaminya secara langsung dalam ruang-ruang strategis kebangsaan.

Sumber: Majalah Ragam, dokumentasi kegiatan kunjungan kebangsaan SMK Bakti Karya Parigi, Juli 2025.

Ketahanan NasionalPancasilaCivic LearningGenerasi Muda

Suka artikel ini? Bagikan.

Baca Juga

Policy Brief ERCI

Rekomendasi kebijakan pendidikan yang disusun melalui riset mendalam dan analisis data empiris.