Kegiatan

Science Camp: Mereka Meneliti, Kami Belajar

Ketika Laboratorium Adalah Alam, dan Guru Adalah Para Peneliti dari Enam Negara

John Roven Kaha3 Februari 20268 min read
Science Camp: Mereka Meneliti, Kami Belajar

Selasa, 3 Februari 2026 menjadi hari yang berbeda di SMK Bakti Karya Parigi. Bukan karena ada ujian mendadak, bukan karena ada acara sekolah yang biasa. Hari itu terasa berbeda karena hal yang tidak kami duga sebelumnya.

Sejak pagi, suasana sekolah terasa lebih ramai dari biasanya. Ada wajah-wajah asing yang hilir mudik di koridor, ransel besar, dan peralatan yang kami belum pernah lihat sebelumnya. Kami kedatangan tamu dari enam universitas yang berasal dari berbagai negara — Indonesia, Filipina, Jerman, hingga beberapa peserta dari Prancis.

Mereka datang untuk mengikuti Science Camp GreenTrans-Edu, sebuah program penelitian ilmiah sekaligus pertukaran pengetahuan lintas budaya. Dan tanpa kami sadari, hari itu kami juga ikut menjadi bagian dari penelitian itu.


Sebuah Program yang Lebih dari Sekadar Kunjungan

GreenTrans-Edu bukan kunjungan wisata biasa. Program ini dirancang sebagai jembatan antara dunia penelitian akademik dan dunia pendidikan di lapangan — mempertemukan para ilmuwan muda dari universitas bergengsi dengan siswa sekolah menengah di daerah, untuk saling belajar dan berbagi pandangan.

Enam universitas yang hadir membawa pendekatan riset yang berbeda-beda. Ada yang fokus pada analisis komposisi tanah dan dampak perubahan iklim terhadap ekosistem lokal. Ada yang membawa perspektif dari ilmu sosial — bagaimana komunitas manusia berinteraksi dengan lingkungannya. Dan ada pula yang datang dengan kerangka metodologi penelitian kualitatif, mengamati cara hidup dan kebiasaan masyarakat sekitar.

Kami, sebagai siswa tuan rumah, awalnya tidak tahu harus memposisikan diri di mana. Apakah kami sekadar penonton? Pemandu? Atau subjek penelitian? Ternyata, kami adalah ketiganya — dan lebih dari itu.

Tanah yang selama ini kami injak setiap hari ternyata menyimpan banyak cerita. Kami hanya tidak pernah tahu cara membacanya — sampai hari itu.


Belajar Langsung dari Penelitian

Dalam kegiatan ini, kami tidak hanya menjadi penonton. Para peneliti mengajak kami terlibat langsung dalam proses penelitian. Ini adalah pengalaman yang sangat berbeda dari belajar di kelas.

Kami membantu mengambil sampel tanah di beberapa titik area sekolah dengan kedalaman mulai dari 1 hingga 120 sentimeter. Satu hal yang langsung menarik perhatian kami: tanah di setiap titik pengambilan memiliki warna, tekstur, dan bau yang berbeda. Ada yang berwarna cokelat gelap dan lembap, ada yang kemerahan dan berpasir, ada pula yang berwarna abu-abu dengan tekstur yang lebih padat.

Kami melihat bagaimana para peneliti bekerja dengan sangat teliti: menggali tanah dengan alat yang tepat, mengamati tekstur dengan telunjuk mereka, mencatat data di lembar observasi, dan menjelaskan setiap prosesnya kepada kami dalam bahasa yang bisa kami pahami.

Dari situ kami mulai memahami bahwa setiap lapisan tanah memiliki karakteristik yang berbeda. Perbedaan itu dipengaruhi oleh vegetasi di atasnya, ekosistem yang hidup di sekitarnya, serta aktivitas manusia yang berlangsung di area tersebut selama bertahun-tahun.

Yang paling mengejutkan kami adalah kenyataan bahwa penelitian ini bukan tentang tempat-tempat eksotis di ujung dunia. Ia tentang tanah di halaman sekolah kami sendiri. Penelitian yang sebelumnya terasa rumit dan jauh tiba-tiba menjadi sesuatu yang nyata, dekat, dan sangat relevan dengan kehidupan kami sehari-hari.

Fakta dari lapangan — apa yang kami pelajari dari tanah sekolah kami

1

Lapisan tanah berbicara — setiap kedalaman menyimpan catatan berbeda tentang sejarah ekosistem: jenis vegetasi yang pernah tumbuh, tingkat kelembapan, hingga jejak aktivitas manusia.

2

Warna tanah adalah data — tanah cokelat gelap menandai kandungan organik yang tinggi, sementara tanah kemerahan mengindikasikan kandungan mineral besi dan kondisi drainase tertentu.

3

Kedalaman 120 cm menceritakan masa lalu — pada kedalaman tersebut, para peneliti bisa mendeteksi perubahan yang terjadi puluhan hingga ratusan tahun lalu, jauh sebelum sekolah ini berdiri.


Belajar Melampaui Bahasa

Setelah sesi penelitian di lapangan selesai, suasana berubah menjadi lebih santai. Alat-alat penelitian dikemas, tangan-tangan yang kotor dicuci, dan kami mulai berkumpul di ruang terbuka dekat area pengambilan sampel. Para peserta Science Camp dan para siswa duduk berdampingan — tidak ada lagi pembatas formal antara peneliti dan yang diteliti.

Kami mulai berbincang dengan para peserta. Dan di sinilah tantangan pertama datang: bahasa.

Tidak semua dari kami fasih berbahasa Inggris. Tidak semua dari mereka bisa berbahasa Indonesia. Ada yang hanya bisa bahasa Tagalog atau Jerman. Ada yang kemampuan Inggrisnya terbatas, sama seperti kami. Sejenak situasi terasa canggung — percakapan terputus di tengah jalan, kalimat menggantung tanpa selesai.

Namun komunikasi tetap berjalan, dengan cara yang kami tidak bayangkan sebelumnya.

Senyum adalah bahasa pertama yang tidak butuh terjemahan. Gestur tangan menjadi kalimat yang lebih efektif dari banyak kata. Tawa yang meledak saat mencoba mengeja nama daerah masing-masing — tanpa direncanakan — menjadi momen yang mencairkan segalanya. Dan rasa ingin tahu yang tulus, yang terlihat dari mata mereka ketika kami bercerita tentang kehidupan di Parigi, menjadi jembatan yang melampaui semua keterbatasan bahasa.

Dari situ kami menyadari sesuatu yang penting: menguasai bahasa asing bukan hanya tuntutan akademik untuk lulus ujian atau memenuhi syarat beasiswa. Bahasa asing adalah jembatan untuk terhubung dengan dunia yang lebih luas, untuk berbagi gagasan dengan orang- orang yang sebelumnya tidak pernah kita bayangkan akan kita temui. Dan mungkin yang lebih penting — kemampuan bahasa dimulai bukan dari kelas, tetapi dari keberanian untuk mencoba.

Senyum, gestur, tawa, dan rasa ingin tahu menjadi bahasa yang menyatukan kami. Tidak ada kamus yang diperlukan untuk menyampaikan ketulusan.


Belajar Melalui Seni dan Alam

Keesokan harinya, kegiatan berlanjut di auditorium sekolah. Kami berkumpul untuk sesi diskusi yang terasa lebih terbuka dari perbincangan di laboratorium. Topiknya lebih luas: tentang pendidikan di negara masing-masing, tentang bagaimana sekolah di Jerman berbeda dengan sekolah di Filipina, tentang apa yang diharapkan dari generasi muda di setiap negara.

Kami mendengar bahwa di Jerman, siswa mulai menentukan jalur pendidikan mereka sejak usia dini — antara jalur akademik atau vokasional. Di Filipina, rasa komunitas dan gotong royong sangat kuat dalam sistem pendidikan. Di Indonesia, kami bercerita tentang keragaman yang membentuk cara belajar kami — bahwa di sekolah ini saja, ada siswa yang datang dari berbagai pulau dengan budaya yang sangat berbeda.

Setelah diskusi, kegiatan dilanjutkan dengan praktik shibori — teknik seni melipat dan mewarnai kain tradisional Jepang yang menghasilkan pola unik. Prosesnya terlihat sederhana, tetapi ternyata membutuhkan ketelitian dan kesabaran: kain dilipat dengan cara tertentu, diikat pada bagian tertentu, lalu dicelupkan ke dalam pewarna alam.

Setiap lipatan menghasilkan pola yang berbeda. Tidak ada dua kain yang menghasilkan motif yang persis sama. Para peneliti yang biasanya terlihat serius di lapangan, kini tertawa bersama kami saat kain mereka menghasilkan pola yang sama sekali tidak sesuai rencana. Shibori mengajarkan kami satu hal yang relevan jauh melampaui seni: bahwa hasil terbaik sering kali datang dari keberanian untuk membiarkan proses berjalan tanpa terlalu mengontrol hasilnya.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan menanam pohon bersama di area sekolah. Setiap peserta, baik dari universitas maupun dari siswa SMK Bakti Karya, menanam satu bibit sebagai simbol kepedulian terhadap lingkungan — dan sebagai pengingat bahwa kita semua, dari mana pun kita berasal, berbagi bumi yang sama dan memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaganya.


Puncak Kegiatan: Body Rafting di Batu Lumpang

Puncak kegiatan Science Camp berlangsung di Batu Lumpang — sebuah kawasan aliran sungai berbatu yang berada tidak jauh dari sekolah. Kami melakukan body rafting: menelusuri aliran sungai mengandalkan tubuh sendiri, tanpa perahu, tanpa pelampung besar, hanya dengan jaket keselamatan dan keberanian.

Bagi beberapa peserta dari luar negeri, ini adalah pengalaman pertama mereka menelusuri sungai berbatu di tengah hutan tropis. Ada yang awalnya ragu, berdiri di tepi sungai sambil memandang deras aliran air dengan ekspresi yang sulit dibaca. Namun satu per satu mereka terjun, dan saat tubuh mereka menyentuh dinginnya air sungai — semua keraguan itu luruh bersama arus.

Di tengah derasnya aliran sungai, perbedaan bahasa dan budaya tidak lagi terasa penting. Tidak ada yang peduli dari universitas mana seseorang berasal, atau dari negara mana mereka datang. Yang ada hanyalah tawa keras saat seseorang terseret arus ke arah yang salah, teriakan semangat saat berhasil melewati jeram, keberanian kolektif yang tumbuh saat bersama-sama menghadapi tantangan yang sama, dan kebersamaan yang lahir begitu saja — tanpa direncanakan, tanpa perlu bahasa.

Alam Parigi, dengan segala ketidakpastiannya, menjadi arena pembelajaran yang paling jujur. Tidak ada hierarki di sana. Tidak ada yang lebih pintar atau lebih berpengalaman. Semua sama-sama basah, sama-sama lelah, dan sama-sama tertawa.

Pelajaran yang tidak tertulis di laporan penelitian mana pun

“Di tengah arus sungai, kami belajar hal yang tidak ada dalam kurikulum mana pun: bahwa keberanian itu menular, dan kebersamaan tidak butuh bahasa yang sama.”

Tiga hari Science Camp GreenTrans-Edu mengajarkan kami lebih banyak tentang dunia daripada yang bisa kami dapatkan dari berbulan-bulan membaca buku teks.


Ilmu dari Pertemuan

Seperti setiap pertemuan yang baik, kebersamaan itu akhirnya harus berakhir. Koper-koper besar muncul kembali di koridor. Pamit-pamitan berlangsung dengan terbata-bata dalam campuran bahasa yang sudah tidak lagi terasa asing.

Namun sesuatu yang menarik terjadi saat perpisahan itu: ada yang bertukar nomor kontak, ada yang berjanji untuk saling berkirim kabar, ada yang meminta foto bersama dengan ekspresi yang sungguh-sungguh — bukan sekadar formalitas. Dalam waktu yang singkat, mereka bukan lagi sekadar tamu dari universitas jauh. Mereka telah menjadi bagian dari cerita kami.

Dari Science Camp ini kami belajar bahwa ilmu tidak hanya datang dari buku dan papan tulis. Ilmu juga hadir dari pengalaman langsung — dari tangan yang kotor terkena tanah, dari tubuh yang basah kuyup di sungai, dari kalimat yang terputus di tengah percakapan tetapi tetap dipahami.

Ilmu hadir dari pertemuan dengan orang-orang yang tumbuh di tempat berbeda, berpikir dengan cara yang berbeda, tetapi memiliki rasa ingin tahu yang sama. Dari keberanian untuk membuka diri terhadap dunia yang sebelumnya terasa jauh dan asing.

Dan mungkin itulah yang paling berharga dari tiga hari bersama para peneliti GreenTrans-Edu: bukan data tanah yang dikumpulkan, bukan sertifikat partisipasi yang kami terima. Melainkan cara pandang yang bergeser — dari “dunia di luar sana terasa jauh” menjadi “dunia di luar sana menunggu untuk dijelajahi.”

Ilmu tidak hanya datang dari buku dan papan tulis. Ia juga hadir dari pengalaman, pertemuan, dan keberanian untuk membuka diri terhadap dunia.

Sumber: Majalah Ragam, Edisi Februari 2026 – SMK Bakti Karya Parigi.

Science CampRisetMultikulturalLingkungan

Suka artikel ini? Bagikan.

Baca Juga

Policy Brief ERCI

Rekomendasi kebijakan pendidikan yang disusun melalui riset mendalam dan analisis data empiris.