Catatan Perubahan: Dari Siswa Bermasalah Menjadi Belajar Bertanggung Jawab
Dari Pelanggaran Menjadi Proses Bertumbuh

“Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” Kalimat itu dulu hanya saya hafal. Namun seiring waktu, kalimat tersebut perlahan mengubah cara saya melihat hidup.
Saya Rianto Agustin, biasa dipanggil Toto, siswa kelas XI angkatan ke-9 Kelas Multikultural SMK Bakti Karya Parigi. Tulisan ini bukan untuk menggurui siapa pun, melainkan sekadar berbagi cerita tentang proses berubah, tentang seorang siswa yang pernah dikenal "bermasalah", lalu belajar memahami arti tanggung jawab.
Masa Lalu yang Penuh Pelanggaran
Sejujurnya, saya bukan siswa teladan. Nama saya lebih sering dipanggil ke ruang wali kelas atau kesiswaan karena pelanggaran, bukan karena prestasi.
Datang terlambat, kurang fokus di kelas, hingga menunda tugas adalah hal yang biasa bagi saya saat itu. Anehnya, saya tidak merasa ada yang salah. Semua terasa biasa saja.
Bahkan organisasi seperti OSIS terasa sangat jauh dari saya. Rasanya terlalu formal, terlalu rapi, terlalu “anak baik”. Dunia itu terasa bukan untuk siswa seperti saya.
Suatu hari saya memberanikan diri mencalonkan diri sebagai Wakil Ketua OSIS. Saya datang dengan percaya diri, tetapi pulang dengan kenyataan: saya tidak terpilih.
Kegagalan yang Mengubah Arah
Namun hidup sering memberi pelajaran dengan cara yang tidak terduga.
Rasa malu dan kecewa sulit dijelaskan. Untuk pertama kalinya saya merasa tidak cukup baik.
Anehnya, kegagalan itu justru menjadi awal perubahan. Meski tidak terpilih, saya tetap diberi kesempatan untuk bergabung dalam kepengurusan OSIS. Tanpa saya sadari, di situlah pintu perubahan mulai terbuka.
Belajar dari Proses
Masuk dalam OSIS tidak serta-merta membuat saya berubah menjadi sempurna. Justru saya banyak belajar dari kesalahan.
Saya belajar memimpin tanpa harus menjadi nomor satu.
Saya belajar disiplin bukan karena takut dihukum, tetapi karena sadar ada amanah yang harus dijaga.
Saya juga belajar bahwa rapat panjang, perbedaan pendapat, bahkan konflik kecil adalah bagian dari proses bertumbuh.
Organisasi yang dulu saya anggap membosankan justru menjadi ruang belajar yang nyata — tempat saya ditempa, ditegur, dan dipercaya.
Kalimat yang mengubah cara berpikir
“Kalau ingin mengubah sistem, masuklah ke dalamnya.”
Pesan Bapak Rendi Setiadi ini menyadarkan saya bahwa perubahan tidak lahir dari keluhan. Perubahan lahir dari keberanian untuk mengambil peran.
Proses yang Terus Berjalan
Hari ini saya masih belajar. Saya masih bisa melakukan kesalahan. Namun satu hal yang pasti: saya tidak ingin kembali menjadi versi diri saya yang dulu.
Bagi saya, OSIS bukan sekadar organisasi sekolah. Ia adalah titik balik, tempat seorang siswa yang sering melanggar aturan belajar tentang tanggung jawab, kepercayaan, dan arti menjadi manusia yang bermanfaat.
Dan mungkin, dari langkah-langkah kecil itulah makna hidup perlahan ditemukan.
Perubahan memang tidak instan. Namun selama kita mau berproses, selalu ada kesempatan untuk bertumbuh.
Sumber: Majalah Ragam, Edisi Februari 2026 – SMK Bakti Karya Parigi.
Suka artikel ini? Bagikan.
Baca Juga
Policy Brief ERCI
Rekomendasi kebijakan pendidikan yang disusun melalui riset mendalam dan analisis data empiris.